Kamis, 06 Desember 2018

Bahasa Jurnalistik


B. Media Sebagai Aktor Politik

Dalam teori wacana Michel Foucault ada istilah kunci selain wacana ada juga episteme, kuasa, pengetahuan, arkeologi dan genealogi, istilah tersebut sulit dipisahkan namun dapat di bedakan.
       Wacana merupakan kumpulan pernyataan yang dihasilkan dari relasi kekuasaan dan pengetahuan melalui mekanisme yang bersifat plural, produktif dan menyebar serta dikonstruksi dengan cara stimulasi. Sementara itu genealogi menjadi model analisis yang melihat relasi antara pengetahuan dan kekuasaan dalam satu bingkai wacana, dalam satu situasi dan kondisi tertentu. Dalam konteks inilah kekuasaan media membuat lima wacana yang diangkat dalam penelitian ini menemukan signifikansinya.
Wacana-wacana itu adalah Kecurangan Kampanye Pilpres, Dugaan pelanggaran HAM Prabowo, Debat Capres-Cawapres, Konser salam 2 jari dan Keberpihakan Susilo Bambang Yudhoyono. Kelima wacana itu merupakan representasi dari pola pikir redaksi Kompas Grup, Media Grup, dan MNC Grup
                                   
1. Kontestasi Media
Pada kampanya Pilpres 2014 sangat terasa pilihan-pilihan politik media terhadap pasangan tertentu. Pilihan politik itu harus hati-hati diambil media karena akan berbenturan dengan sikap indepedensi media. Beberapa grup media seperti Metro TV, MNC, dan Viva memiliki keterkaitan dengan partai politik. Ini harus disikapi hati-hati oleh wartawan yang bernaung di bawah perusahaan tersebut. Ada beberapa media tidak memiliki afiliasi dan keterkaitan dengan partai politik tertentu sehingga relatif bebas dalam menentukan sikap redaksinya dalam menyikapi kampanye pilpres 2014.
            Polaritas pemberitaan di Metro TV, MNC dan Viva sangat kentara. Metro TV dengan Surya Paloh dan partai Nasdem, Hary Tanoesoedibjo di MNC dan Aburizal pada Viva. Masing-masing menggunakan media untuk kepentingan politik para pemiliknya. Televisi seharusnya digunakan untuk kepentingan publik bukan untuk kampanye politik golongan tertentu, tidak hanya terjadji di Indonesia, di luar negeri pun sama saja. Banyak media memilih dan berafiliasi dengan partai politik atau simpatisan kandidat tertentu, inilah salah satu resiko media dikuasai pedagang dan politisi.
            Keberpihakan media secara politik lebih baik dideklarasikan secara terbuka. Dengan begitu publik akan mengetahuinya dan akan melihat media yang memiliki afiliasi dengan partai politik tertentu. Ini lebih baik daripada berpura-pura independen dan netral dari kontestasi politik tertentu. Sikap pura-pura netral tersebut membohongi publik.
            Hampir sebagian besar media pada kampanye Pilpres 2014 larut ke isu pemilu dan pilpres. Muncul kecenderungan-kecenderungan terhadap calon tertentu, namun yang harus digarisbawahi adalah standar kode etik jurnalistik, masyarakat yang akan menguji dan menilai berita dari satu media, oleh sebab itu masyarakat harus sadar bahwa tidak ada media yang netral.
            Dalam kampanye Pilpres 2014, Media Grup dan MNC Grup sangat terlihat kepentingan pemiliknya, sementara itu Kompas Grup pada level redaksi tidak terlihat meskipun mereka memiliki keterkaita sejarah dengan ideologi partai tertentu.
            Kalau pun mereka menyanggah dan menggunakan standar Kode Etik Jurnalistik adalah sebuah keterpaksaan, Lumrah bila pemberitaan di Media Grup dan MNC Grup selalu bertentangan, misalnya  dalam pemberitaan tentang kecurangan kampanye dan dugaan pelanggaran HAM Prabowo
            Sementara itu, Komisi Penyiaran Indonesia sudah membaca pertarungan media pada Piplres 2014akan berlangsung terbuka, vulgar dan cenderung sarkastis. Oleh sebab itu KPI bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) membuat kesepakatan tentang rambu-rambu aktivitas media penyiaran. Bahwa ranah publik tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi, kelompok atau partai politik tertentu.
            Sesungguhnya pertarungan di televisi adalah murni bisnis, bukan ideologi kecuali jika dilihat kapitalisme sebagai ideologi. Namun, dalam pertarungan Pilpres 2014 para pemilik media sangat pragmatis.

2. Etika Jurnalistik

Sepanjang perjalanan perubahan jurnalisme dari cetak, televisi, radio, dan kini situs berita (media online) selalu menghadirkan persoalan, persoalan mendasar adalah dilema etika jurnalisme dan keguncangan etika yang paling dahsyat dari kehadiran situs berita yang bersifat online. Praktik jurnalisme online kerap bertabrakan dengan etika, prinsip, dan pakem jurnalisme lama. Ini menjadi persoalan serius dan sampai saat ini masih belum terpecahkan. Jurnalisme tradisional masih memercayai akurasi, verifikasi, keseimbangan, imparsialitas, dan adanya gatekeeper.
            Secara filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran, independensi, check and balance, cover all (multi) side,verifikasi fakta, dan keberpihakan yang lemah. Etika jurnalisme berfungsi untuk menjamin media memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan publik mendapat informasi yang sehat dan mencerahkan.
            Pertarungan pada Pilpres 2014 merupakan pertarungan yang cukup ramai sepanjang sejarah republik ini berdiri. Peranan media begitu besar dalam mobilitas opini, pembentukan opini, kemudian dalam mendefinisikan mana lawan mana kawan, serta mengarahkan publik untuk memilih salah satu kandidat.
            Selain itu, media memberikan satu kejutan bahwa mereka bisa mengangkat seseorang yang katakanlah tidak dijagokan tiba-tiba menjadi “hero” . Hal ini dimulai pada pilpres 2004. Perang media pada Pilpres 2009 sangat kuat peranannya, khususnya media-media online. Pada saat itu, masyarakat Indonesia mulai belajar, terutama bagaimana seorang Susilo Bambang Yudhoyono bisa muncul hanya dengan memanfaatkan satu sentimen bahwa dia dianiaya ataupun diperlakukan tidak adil oleh Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat presiden. Susilo Bambang Yudhoyono semacam menggosok sentimen viktimisasi (sebagai korban). Semua analisis tentang perseteruan Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono sudah ditulis oleh banyak karya penelitian. Jadi ada viktimisasi salah seorang figur politik, dari situ ia menjadi media darling.
            Periode kedua Susilo Bambang Yudhoyono dewan pers menyaksikan pemerintahan yang dihasilkan pada Pemilu 2009 di tengah jalan mengalami penurunan popularitas yang luar biasa. Hal ini dipicu media berubah sikap menjadi pengkritik yang paling serius terhadap pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ini berbeda dengan masa awal Susilo Bambang Yudhoyono menjabat presiden pada tahun 2004-2009. Saat itu benar-benar bulang madu Susilo Bambang Yudhoyono dengan media, tetapi dari tahun 2009 ke atas Susilo Bambang Yudhoyono sudah mulai dikritik.
            Disituasi seperti itu muncul yang namanya Joko Widodo(Jokowi). Kemunculan jokowi menarik simpati yang luar biasa karena dia dipandang sebagai antitesis dari Susilo Bambang Yudhoyono. Tetiba orang merasa Jokowi adalah kita, yaitu rakyat. Namun Jokowi maju bukan lagi media darling tetapi people darling.

            Seseorang bisa di katakan people darling karena upaya untuk menghajar Jokowi itu dilakukan oleh media-media yang tidak suka, tetapi pada kenyataannya tidak berhasil.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa Jurnalistik

C. Post-journalism Perkembangan Jurnalisme kontemporer sangat mengerikan karena jurnalisme berubah terus. Jurnalisme ditantang oleh te...